Yamaha

Polda dan BKKSDA Tangkap Pelaku Perdagangan Satwa Langka di Jatim

  Rabu, 17 Februari 2021   Budi Cahyono
Personel Ditreskrimsus Polda Jatim dan BBKSDA menunjukan tersangka beserta sejumlah satwa langka yang diamankan saat press release, Rabu (17/2/2021).

SURABAYA, AYOJAKARTA.COM --  Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Timur (Ditreskrimsus Polda Jatim) bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) membongkar tindak pidana konservasi Sumber Daya Alam (SDA) Hayati dan Ekosistemnya.

Perihal tersebut, Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Gatot Repli Handoko mengatakan praktik jual beli satwa langka nan dilindungi itu dapat dibongkar personelnya pada Senin (1/2/2021), di Dusun Menggigit, Desa Suko, Kabupaten Sidoarjo. Saat itu, personel Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim membekuk seorang pria berinisial NR (26).

"Kami menangkap tersangka pertama (NR) beserta barang buktinya," kata Gatot saat press release di Ruang Bidhumas Polda Jatim, Rabu (17/2/2021).

Gatot menambahkan, kronologi penangkapan bermula pada hari Minggu (31/1/2021) sekitar pukul 20.00 WIB, personelnya Unit I Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim menemukan adanya informasi terkait penjualan satwa yang dilindungi di media sosial Facebook.

Selanjutnya, personelnya berkoordinasi dengan BBKSDA untuk memastikan kebenaran postingan itu. Selang sehari kemudian, Senin (1/2/2021) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, personel Unit I Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim bersama petugas BKSDA langsung menuju ke rumah NR.

Sesampainya di lokasi, petugas gabungan dari 2 instansi tersebut mendapati kebenaran satwa yang dilindungi. Usai menunjukan surat perintah dan menjelaskan maksud dan tujuan kepada pemilik rumah, petugas langsung mengkroscek sejumlah binatang di rumah NR.

Beberapa menit mengkroscek, petugas mendapati NR telah menyimpan satwa yang dilindungi, yakni 15 ekor Kakatua Maluku dengan nama latin Cacatua moluccensis. NR juga terbukti melanggar pidana lantaran sejumlah satwa itu tak memiliki dokumen dan Undang-Undang (UU) yang sah.

Lalu, Kakaktua itu dibawa ke BBKSDA Jatim. Sedangkan, NR beserta barang bukti 2 sangkar besi, sebuah kandang ram besi, 30 buah paralon bekas tempat satwa,14 buah keranjang plastik bekas tempat satwa, hingga 1 unit Handphone iPhone 6s Plus warna silver dibawa ke Polda Jatim untuk proses lebih lanjut.

Berdasarkan pengakuan saat proses penyidikan, NR mengaku tak mengantongi legalitas yang sah terhadap 15 ekor Kakatua Maluku itu. NR mengakui hanya menjualnya melalui media sosial Facebook dengan nama akun @zein-zein.

Senada, Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Jimmy Tana mengungkapkan penangkapan tak berhenti sampai disitu. Usai membekuk NR, personelnya lantas mengembangkan kasus serupa diwilayah lain yang ternyata masih 1 jaringan dengan NR.

Jimmy menegaskan ia dan personelnya membekuk pelaku lainnya sepekan kemudian, yakni pada Senin (8/2/2021) lalu di Dusun Pakunden, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. 

Saat itu, petugas gabungan mendapati seorang pria berinisial VPE (29) dan istrinya berinisial NK (21). Saat itu, VPE dan NK terbukti memelihara satwa dilindungi berupa seekor Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) dan 8 ekor Lutung Budeng (Trachypithecus auratus) di rumahnya. 

Jimmy memaparkan, kronologi penangkapan bermula pada Rabu (27/1/2021) sekitar pukul 10.00 WIB, petugas Unit III Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim mendapat informasi serupa dengan terdangka NR, yakni menjual satwa yang langka nan dilindungi di media sosial Facebook dengan nama akun; Enno Arekbonek Songolaspitulikur.

Lalu, petugas gabungan memburu pelaku. Ketika memperoleh tracing lokasi pelaku, petugas gabungan mendatangi rumah VPE pada Senin (8/2/2021) siang sekitar pukul 13.00 WIB di Perum Permata Biru, Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Usai menunjukan surat perintah dan menjelaskan maksud dan tujuan kepada VPE, petugas langsung menggeledah rumah tersebut. Ketika mengkroscek lebih dalam, petuvas gabungan menemukan seekor Elang Brontok  dan 8 ekor Lutung Budeng.

"Modus operandi tersangka yang ini (VPE dan NK) adalah memelihara dan menjual satwa dilindungi, kami temukan Elang Brontok dan Lutung Budeng yang akan dijual melalui media online Facebook menggunakan nama  akun Miidha dan Enno Arekbonek songolaspitulikur dengan cara satwa diposting," terangnya sembari menunjukan barang bukti.

Jimmy menegaskan, pihaknya terpaksa tak menahan NK, istri dari VPE. Alasannya, sedang hamil. "Yang bersangkutan tidak kami tahan, karena sedang hamil," lanjutnya.

Kepada penyidik, para pelaku mengaku sebagai penadah satwa langka itu, lalu menjualnya ke penadah atau konsumen lainnya di sejumlah lokasi. Harga yang dibanderol pun bervariatif, mulai Rp2 jt sampai puluhan juta rupiah.

"Jualnya bervariatif, mulai Rp2 juta, ada yang Rp8 juta, paling mahal itu Elang Brontok sampai Rp 50 juta. Ada juga bayi lutung masih kecil juga," tandasnya.

Jimmy pun mengimbau, apabila masyarakat menemukan hal serupa untuk segera melapor kepada pihak kepolisian maupun BKSDA. Sebab, dengan laporan dan penanganan cepat, diharap bisa menyelamatkan populasi satwa langka yang tengah diambang kepunahan.

"Bila masyarakat mendapat informasi terkait penjualan, bisa segera lapor ke kami," katanya.

Akibat perbuatannya itu, 3 tersangka dijerat dengan pasal 40 ayat (2) juncto pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta pasal 33 ayat (3), juncto Pasal 21 ayat (2) huruf a dan c dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda maksimal Rp100 juta. (Praditya)


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar