Yamaha

Rayakan Valentine Day, Boleh atau Haram? Ini Beberapa Pandangan Ulama

  Sabtu, 13 Februari 2021   Eries Adlin
Rayakan Valentine Day, Boleh atau Haram? Ini Beberapa Pandangan Ulama (ilustrasi)/ayobogor/husnul khatimah


TEBET, AYOBEKASI.NET – Setiap memasuki Februari, pembahasan tentang Valentine Day atau Hari Kasih Sayang selalu beredar di media sosial termasuk grup WhatsApp. Perbincangan utamanya menyangkut bagaimana hukum merayakan Valentine Day bagi umat Islam.

Polemik atas perayaan yang jatuh setiap 14 Februari tersebut biasanya menyangkut; apakah boleh atau malah haram bagi umat Islam ikut merayakan Valentine Day.

Berikut ini beberapa pandangan tentang hukum merayakan Valentine Day yang Ayojakarta, jaringan Ayo Media Network, kutip dari portal Islam:

Fatwa Ulama Mesir dan Tunisia tentang Hari Valentine

Sumber: BincangSyariah.Com 13 Februari 2019

Link: https://bincangsyariah.com/kalam/fatwa-ulama-mesir-dan-tunisia-tentang-hari-valentine/

Perayaan hari Valentine (hari kasih sayang) yang pada mulanya hanya dirayakan oleh orang-orang nonmuslim kini telah juga ikut dirayakan oleh orang-orang Muslim. Fakta ini menjadi sebuah problematika tersendiri bagi para ahli hukum Islam baik yang menyatu dalam sebuah lembaga fatwa atau para pakar hukum yang independen.

Ada yang memandang hari Valentine tidak boleh dirayakan dengan mengacu bahwa dalam sejarahnya perayaan sejenis ini dalam Islam tidak ditemukan asal usulnya. Di samping itu bagi mereka perayaan ini bagian dari kekhususan orang-orang nonmuslim sehingga umat Islam tidak boleh menyerupainya kalau tidak mau dianggap sebagai bagian dari mereka.

Lembaga Fatwa Mesir dan Tunisia mengatakan sebagaimana dilansir oleh situs www.alwatanvoice.com bahwa hari Valentine sah-sah saja dirayakan oleh umat islam asalkan dengan cara yang baik serta tidak keluar dari koridor Islam.

Pasalnya, perayaan yang dilakukan tidak bermaksud meniru orang-orang Kristen dan juga tidak menyangkut ritual mereka. Lebih lanjut, bagi mereka peringatan hari Valentine tidak ubahnya perayaan-perayaan sosial lainnya, seperti hari ibu, hari kemerdekaan, hari buruh dan perayaan-perayaan sosial lainnya.

“Grand Mufti Othman Batikh dari Tunisia berkata: Hari Valentine sah-sah saja dirayakan bukan malah diharamkan. Orang-orang yang mengatakan bahwa hal itu disamakan dengan mengikuti jejak orang-orang Nasrani tidaklah dibenarkan.

Karena mereka tidak masuk agama mereka atau mengadakan ritual keagamaan mereka ketika merayakan Hari Valentine.  Jadi tidak ada alasan untuk mencegah serta melarang  perayaan Hari Valentine, asalkan berangkat dari moralitas dan cara yang sesuai dengan islam.”

“Sheikh Ahmed Mamdouh, Sekretaris lembaga Fatwa Mesir mengatakan, bahwa dalam Islam tidak ditemukan nas atau dalil yang melarang menjadikan hari-hari tertentu sebagai hari istimewa dari sebuah peristiwa yang sudah terjadi selama dengan syarat tidak keluar dari batasan-batasan Islam, seperti menjadikan hari tertentu untuk memuliakan ibu.

Tidak ada alasan untuk melarangnya dalam rangka menebarkan rasa cinta dan kasih pada sesama.”

Beliau melanjutkan bahwa Nabi Muhammad saw. dalam pidatonya berpesan, barang siapa yang mencintai saudaranya maka katakanlah “saya mencintaimu karena Allah”. Konsep cinta bagi beliau lebih luas dan lebih komprehensif daripada cinta antara pria dan wanita, tetapi merupakan konsep yang lebih umum, antara sesama manusia.

Jangan Menyimpang dari Syariat Islam Saat Valentine Day

Sumber: Republika.co.id 12 Februari 2019

Link: https://republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/19/02/12/pmst1u384-jangan-menyimpang-dari-syariat-islam-saat-valentine-day

AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Di Balik Lelaki Sukses, Ada…?

JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat (Jabar) berpesan kepada masyarakat Muslim khususnya kaum muda agar tidak menyimpang dari syariat Islam saat hari Valentine (Valentine day). MUI Jawa Barat tidak melarang tapi mengimbau agar tidak berlebihan dalam merayakan hari Valentine.

“(MUI Jawa Barat) bukan melarangnya, tapi jangan berlebihan (merayakannya), apalagi menyimpang dari syariat (Islam),” kata Ketua MUI Jawa Barat, Prof KH Rachmat Syafe'i kepada Republika.co.id, Selasa (12/2).

KH Rachmat menerangkan setiap bangsa mempunyai kebudayaan yang beragam. Kebudayaan Bangsa Indonesia sebaiknya dipelihara dengan baik. Sebab berbudaya dan bermasyarakat adalah tabiat manusia.

Namun untuk menghadapi sejumlah budaya, prinsip dan syariat Islam tidak boleh dilanggar. Dia menyaranka, kembangkan budaya yang baik dan sesuai dengan lingkungan bangsa sendiri saja. Tentu dengan cara tidak berlebihan, ramah dan santun.

Ketua Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI Jawa Barat, Ustaz Irfan Safrudin, menambahkan kegiatan Valentine mengungkapkan rasa kasih sayang dengan menunjukan semangat liberalisme dan hedonisme. Serta menunjukan prinsip manusia adalah segala-galanya yang tidak memiliki batasan.

Bahkan menganggap tidak ada Tuhan, agama dan budaya saat mengekspresikan kasih sayang. Valentine digerakkan oleh kelompok yang ingin kebebasan dan ingin memutuskan norma agama, budaya dan sosial. “Kalau ini terus (jadi budaya) generasi muda, nanti mereka tidak peduli lagi dengan agama dan budaya, targetnya generasi (muda dibuat) melonggarkan nilai agama dan budaya,” ujarnya.

Ustaz Irfan mengimbau generasi muda agar tidak merayakan Valentine. Sebab kalau dilihat dari sejarah dan filosofinya, Valentine menginginkan ada kebebasan dalam menyatakan kecintaannya tanpa sekat-sekat agama dan budaya. Jadi untuk apa generasi muda merayakan Valentine jika sekadar hura-hura, mengikuti yang lain dan pemborosan.

Ia menegaskan ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan generasi muda, yakni masalah-masalah yang sedang dihadapi generasi muda bangsa ini. Termasuk persoalan pendidikan dan ekonomi.

Hari Valentine: Hari Zina Internasional

Sumber: Konsultasisyariah.com

Link: https://konsultasisyariah.com/10485-valentines-day-hari-zina-internasional.html

Di antara bencana yang menimpa pemuda Islam adalah sikap latah meniru kebiasaan orang kafir. Salah satu di antaranya, memeriahkan Valentine’s Day. Valentine’s day, 100% datang dari orang kafir.

Kita semua sepakat bahwa valentine datang dari budaya nonmuslim. Terlalu banyak referensi tentang sejarah dan latar belakang munculnya hari valentine, yang mengupas hal itu. Saking banyaknya, mungkin kuranng bijak jika kami harus mengulas ulang pembahasan yang sudah berceceran tentang sejarah Valentine’s. Untuk itu, kami di sini hanya ingin meyakinkan bahwa valentine murni dari orang kafir.

Klaim: Kami mengakui bahwa valentine’s day buatan orang kafir, tapi kami sama sekali tidak melakukan ritual mereka. Kami hanya menjadikan hari ini sebagai hari untuk mengungkapkan rasa cinta kepada kekasih. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan acara keagamaan. Apakah ini tetap dilarang?

Jawab:

Alasan ini tidak dapat diterima. Setelah Anda memahami bahwa hari valentine adalah budaya orang kafir, ada beberapa konsekuensi yang perlul Anda pahami:

Pertama, turut memeriahkan valentine’s day dengan cara apapun, sama saja dengan meniru kebiasaan orang kafir. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan ancaman yang sangat keras, bagi orang yang meniru kebiasaan orang kafir. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang meniru suatu kaum maka dia bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani).

AYO BACA : Cara Mudah Mencairkan Klaim JHT BPJS Ketenagakerjaan via Lapak Asik Online

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

“Hadis ini, kondisi minimalnya menunjukkan haramnya meniru kebiasaan orang kafir. Meskipun zahir (makna tekstual) hadis menunjukkan kufurnya orang yang meniru kebiasaan orang kafir. Sebagaiman firman Allah Ta’ala yang artinya, ‘Siapa di antara kalian yang memberikan loyalitas kepada mereka (orang kafir itu), maka dia termasuk bagian orang kafir itu’. (QS. Al-Maidah: 51).” (Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 1:214)

Pada hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan tujuan meniru kebiasaan orang kafir itu. Beliau juga tidak memberikan batasan bahwa meniru yang dilarang adalah meniru dalam urusan keagamaan atau mengikuti ritual mereka. Sama sekali tidak ada dalam hadis di atas. Karena itu, hadis ini berlaku umum, bahwa semua sikap yang menjadi tradisi orang kafir, maka wajib ditinggalkan dan tidak boleh ditiru.

Kedua, memeriahkan hari raya orang kafir, apapun bentuknya, meskipun hanya dengan main-main, dan sama sekali tidak diiringi dengan ritual tertentu, hukumnya terlarang.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, beliau menjumpai masyarakat Madinah merayakan hari raya Nairuz dan Mihrajan. Hari raya ini merupakan hari raya yang diimpor dari orang Persia yang beragama Majusi. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, beliau bersabda,

“Saya mendatangi kalian (di Madinah), sementara kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa jahiliyah. Padahal Allah telah memberikan dua hari yang lebih baik untuk kalian: Idul Qurban dan Idul Fitri”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan dishahihkan Syaikh Ali Al-Halabi)

Mari kita simak dengan seksama hadis di atas. Penduduk Madinah, merayakan Nairuz dan Mihrajan bukan dengan mengikuti ritual orang Majusi. Mereka merayakan dua hari raya itu murni dengan main-main, saling memberi hadiah, saling berkunjung, dst.

Meskipun demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarang mereka untuk merayakannya, menjadikannya sebagai hari libur, atau turut memeriahkan dengan berbagai kegembiraan dan permainan. Sekali lagi, meskipun sama sekali tidak ada unsur ritual atau peribadatan orang kafir.

Oleh karena itu, meskipun di malam valentine’s sekaligus siang harinya, sama sekali Anda tidak melakukan ritual kesyirikan, meskipun Anda hanya membagi coklat dan hadiah lainnya, apapun alasannya, Anda tetap dianggap turut memeriahkan budaya orang kafir, yang dilarang berdasarkan hadis di atas.

Sudah menjadi rahasia umum, intensitas zina meningkat pesat di malam valentine. Hari itu dijadikan momen paling romantis untuk mengungkapkan rasa cinta kepada pacar dan kekasih.

Apabila valentine hanya sekadar pacaran dan makan malam, setelah itu pulang ke “kandang” masing-masing, ini cara valentine zaman 70-an, kuno! Saat ini, valentine telah resmi menjadi hari zina.

Bukan hanya mengungkap perasaan cinta melalui hadiah coklat, tapi saat ini dilampiri dengan kondom. Allahu akbar! Apa yang bisa Anda bayangkan? Malam Valentine menjadi kesempatan besar bagi para pemuda dan mahasiswa pecundang untuk merobek mahkota keperawanan gadis dan para wanita.

Malam Valentine diabadaikan dengan lumuran maksiat dan dosa besar. Lebih parah dari itu, semua kegiatan di atas mereka rekam dalam video untuk disebarkan ke berbagai penjuru bumi melalui dunia maya. Bukankah ini bencana besar?! Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun..

Di manakah rasa malu mereka?! Di manakah rasa keprihatinan mereka dengan umat?! Akankah mereka semakin memperparah keadan?!

Wahai para pemuda pecundang…, jangan karena kalian tidak mampu menikah kemudian kalian bisa sewenang-wenang menggagahi wanita??

Wahai para pemudi yang hilang rasa malunya…, jangan karena sebatang cokelat dan romantisme picisan Anda merelakan bagian yang paling berharga pada diri Anda. Laki-laki yang saat ini sedang menjadi pacarmu, bukan jaminan bisa menjadi suamimu. Bisa jadi kalian sangat berharap kasih sayang sang kekasih, namun di balik itu, obsesi terbesar pacarmu hanya ingin melampiaskan nafsu binatangnya dan mengambil madumu.

Bertaubatlah wahai kaum muslimin…

Ingatlah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Jika perbuatan kekejian sudah merebak dan dilakukan dengan terang-terangan di tengah-tengah masyarakat, maka Allah akan menimpakan kehancuran kepada mereka.” (HR. Hakim dan beliau shahihkan, serta disetujui Ad-Dzahabi)

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewab Pembina Konsultasi Syariah)

AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Belajar dari Gus Baha dan Anak Tongkrongan


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar