Yamaha

Pelonggaran Batas Sosial, Protokol Kesehatan Cuma Pemanis?

  Rabu, 08 Juli 2020   Netizen
ilustrasi. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah berakhir di sebagian banyak wilayah Indonesia. Pusat-pusat perbelanjaan, ruang publik, hingga tempat wisata sudah mulai dibuka dan beroperasi.

Kegiatan dalam sektor ekonomi dan perhubungan sudah dijalankan. Saat ini kita sebagai masyarakat Indonesia sedang bergerak menuju kehidupan baru yaitu melakukan aktivitas semula dan berdampingan dengan virus COVID-19.

Setelah hampir empat bulan kita di rumah saja dan melakukan segala aktivitas melalui daring, masa-masa transisi seperti ini dianggap menjadi semacam hadiah yang diperoleh karena patuh akan aturan.

Sejumlah protokol kesehatan yang ada saat ini hanya dianggap pemanis saja, tidak terlalu penting.

Tidak susah menemukan kerumunan orang di ruang publik tanpa mematuhi aturan-aturan yang seharusnya diterapkannya. Tidak sedikit pula yang mengunggah aktivitas tersebut atau memamerkannya pada sosial media seperti Instagram Story atau Twitter.

Unggahan seperti tengah berkumpul kembali dengan banyak teman, bersantap di restoran tanpa jaga jarak, atau yang paling sederhana dan sering dilakukan tidak memakai masker saat bepergian keluar rumah pun sudah menjadi pemandangan umum.

Salah satu pemberitaan cukup heboh tentang kerumunan orang yang memadati ruang publik ada saat dibukanya Car Free Day (CFD) di Jakarta pada bulan Juni lalu. Ratusan bahkan ribuan orang memadati acara tersebut dengan dalih berolahraga. Walaupun sebagian besar masyarakat sudah memakai masker, namun protocol kesehatan penting lainnya yaitu jaga jarak sejauh satu meter setiap orangnya tidak dilakukan.

CFD di Jakarta pada bulan Juli lalu juga mendatangkan banyak respons negatif di media sosial. Salah satunya di Twitter, topik CFD sempat menjadi trending dan dibicarakan oleh banyak orang.

Data terakhir dalam laman covid19.go.id pada 7 Juli 2020 telah mengkonfirmasi sebanyak 66.226 orang terjangkit COVID-19 di seluruh wilayah di Indonesia.

Sebanyak 38.702 orang yang dinyatakan sebagai orang dalam pemantauan (ODP), 13.471 orang sebagai pasien dalam pemantauan (PDP), 3.309 orang meninggal dunia, dan 30.785 dinyatakan sudah sembuh.

Memang tak bisa dipungkiri fakta bahwa manusia sebagai makhluk sosial memegang alasan penting mengapa banyak orang suka berkumpul dengan orang lain.

Sebagai makhluk sosial, manusia merupakan makhluk yang hidup bersama dengan manusia lainnya dan memerlukan keterlibatan atau bantuan dari orang lain dalam menjalankan aktivitasnya. Namun dalam arti sempit, sosial berasal dari kata “soctus” yaitu mendahulukan kepentingan bersama atau masyarakat.

Selain alasan akan manusia merupakan makhluk sosial, dampak psikologis adanya pandemi COVID-19 mengambil bagian yang tak kalah besar pula. Efek yang terjadi ialah adanya perasaan krisis, ketidakpastian, dan kehilangan kendali.

Perasaan negatif tersebut akhirnya mendatangkan stres. Bahkan semakin tinggi stress seseorang, semakin besar peluang orang tersebut untuk tidak mematuhi aturan.

Masyarakat Indonesia harus sadar pandemi COVID-19 belum berakhir. Belum ada vaksin yang berhasil dibuat dari seluruh dunia. Bahkan sejumlah ahli menyebutkan bahwa pandemi ini bisa berganti menjadi endemik. Di mana COVID-19 akan selalu ada di tengah masyarakat sampai akhirnya dianggap seperti layaknya penyakit lainnya.

Sejatinya adaptasi kebiasaan baru (AKB) dimaksudkan agar kita bisa beraktivitas kembali secara normal dengan beberapa anjuran yang wajib dilakukan segala protokol kesehatan. Berkumpul, pergi ke luar rumah, membeli makanan atau minuman di restoran favorit atau bahkan mengunjungi tempat wisata bisa dilakukan, dengan mematuhi protokol kesehatan.
(Ghina Amelia/Mahasiswi Jurnalistik UIN SGD Bandung)

Catatan Redaksi:
Artikel ini sudah ditayangkan Ayobandung.com dengan judul "Kenapa Adaptasi Kebiasaan Baru Belum Maksimal?"


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar