Yamaha

Derita Ojol di Tengah Pandemi Covid-19: Takut Anak Kelaparan

  Selasa, 07 April 2020   Firda Puri Agustine
ilustrasi driver online. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

BEKASI TIMUR, AYOBEKASI.NETPandemi Covid-19 mengubah hidup banyak orang, tak terkecuali mereka yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online (ojol). Kesehatan terancam, penghasilan pun di ambang karam.

Diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta memperparah keadaan. Lewat kebijakan ini, pengemudi ojol dilarang membawa penumpang dan hanya diperbolehkan mengantar barang serta makanan.

Memang, Kota Bekasi belum mendapatkan izin PSBB dari Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Namun, dampak PSBB di Jakarta menghantam hidup pengemudi ojol yang ada di wilayah ini. Maklum, periuk nasi mereka sebagian besar memang berada di ibu kota.

“Suram-lah. Otak rasanya enggak bisa mikir. Sebelum ada PSBB aja penghasilan saya sudah berkurang banget. Gimana ada PSBB? Minus berkali lipat,” kata Rahmanto, seorang pengemudi ojol kepada Ayobekasi.net, Selasa (7/4/2020).

Walaupun masih diizinkan mengambil order barang dan makanan, ia mengaku kecil hati. Pasalnya, lebih dari 80% pemasukannya selama ini berasal dari antar jemput penumpang. Belum lagi jumlah pengemudi ojol di Jabodetabek sangat banyak.

“Sekarang yang order makanan juga enggak banyak kayak sebelum-sebelumnya. Mereka juga takut sama virus kan. Mending pada masak sendiri,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Rizki, pengemudi ojol lain. Kondisi serba sulit seperti sekarang membuat dia tidak lagi mencemaskan Covid-19. Bukan sombong, tapi memang ada hal lain yang lebih Rizki takutkan. Dan, itu jauh lebih besar dari keganasan virus ini.

“Setiap hari saya cuma takut anak istri enggak bisa makan. Enggak sanggup saya kalau lihat anak kelaparan,” kata Rizki.

Karena itulah bapak dua anak ini rela berjuang mencari nafkah, bagaimanapun kondisi yang ada. Sadar bahwa profesi ojol tak lagi menjanjikan, ia memilih berjualan kue dan es hasil buatan istrinya yang hanya seorang ibu rumah tangga.

“Sekuat tenaga cari uang untuk hidup. Apa aja saya kerjain asal halal. Mudah-mudahan Allah melindungi saya sekeluarga dari Covid-19. Allah juga tahu, tanpa Covid hidup saya juga sudah susah,” ujarnya.

Platform transportasi online seperti Gojek tidak diam saja dengan keadaan ini. Setidaknya, ada beberapa aksi yang mereka lakukan. Salah satunya dengan ‘membekali’ mitra pengemudi dengan masker dan hand sanitizer.

CEO Gojek Kevin Aluwi menyatakan bahwa pihaknya melakukan upaya maksimal untuk bisa membantu para mitra, juga masyarakat di tengah pandemi Covid-19 ini. Belum lama, Gojek telah meluncurkan skema bantuan pendapatan selama 14 hari dan menghentikan cicilan berjalan bagi mitra yang terdiagnosa Covid-19.

“Kami merupakan perusahaan on-demand pertama di Indonesia yang menerapkan kebijakan ini untuk mendukung mitra driver,” katanya seperti dikutip dari laman resmi Gojek.

Upaya yang tak kalah masif juga dilakukan Grab Indonesia. Mereka menyatakan komitmen penuh membantu para mitranya dengan segala cara.

“Grab berkomitmen 100% dan telah mengalokasikan Rp 160 miliar untuk inisiatif yang sedang berlangsung, termasuk kesejahteraan mitra dan tenant, dan sejumlah inisiatif baru untuk atasi pandemi,” ujar Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata.

“Kita harus bersiap untuk hadapi perlambatan ekonomi yang terjadi,” lanjutnya.

Akankah semua usaha yang dilakukan mereka berdampak pada kehidupan pengemudi? Tak ada yang jamin. Tapi, setidaknya masih ada harapan. Selalu ada pelangi setelah hujan.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar