Yamaha

Kisah ODP Covid-19 di Bekasi: Belum Positif Tapi Dikucilkan

  Kamis, 02 April 2020   Firda Puri Agustine
Ilustrasi. (Anemone123/Pixabay)

TAMBUN UTARA, AYOBEKASI.NET -- Sebut saja namanya Della. Wanita yang tinggal di Kecamatan Tambun Utara ini sudah lebih dari 14 hari menjalani karantina mandiri di rumahnya.

Dia masuk kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) setelah sempat bertemu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang kemudian dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

Pekerjaan Della sebagai jurnalis memang memiliki risiko tinggi tertular virus ini. Namun, ia tak menyangka ‘bahaya’ itu benar-benar nyata di depan mata. Bukan hanya tentang penyakit itu sendiri, juga stigma negatif yang ditujukan warga kepadanya.

“Padahal status saya baru ODP, belum positif Covid-19 dan jangan sampe juga. Tapi, kayak tetangga itu langsung jadi ‘beda’ ketika ada kakak saya keluar rumah ke warung atau berangkat kerja,” kata Della kepada Ayobekasi.net, Kamis (2/4/2020).

‘Beda’ yang dimaksud Della misalnya saja mereka langsung buru-buru masuk ke dalam rumah dan memilih tidak bertegur sapa. Belum lagi ada kabar-kabar tidak benar alias hoax yang beredar di grup percakapan RT maupun RW.

“Saya memang melakukan isolasi mandiri dan itu saya laporkan juga ke Pak RW tentang kondisi saya yang alhamdulillah sehat, tidak ada keluhan apapun,” ujarnya.

“Tapi, entah bagaimana tiba-tiba ada tetangga chat kakak saya nanyain demam saya sudah turun belum? Lho, saya tidak demam sama sekali. Jadi, ada cerita yang ditambah-tambahin yang mengarah kalau saya ini positif Covid-19, yang malah ngerugiin saya,” lanjut Della.

Kondisi wanita 30 tahun itu hingga kini sehat dan sedang dalam tahap menunggu antrean rapid test dari Pemerintah Kabupaten Bekasi. Jauh sebelum ada rapid test, ia sebenarnya sudah berinisiatif ingin memeriksakan diri. Tapi, ahli medis yang ia hubungi saat itu menyarankan agar isolasi diri saja secara mandiri.

“Dokternya nyuruh isolasi mandiri selama 14 hari. Kalau ada keluhan atau gejala, baru telepon lagi. Alhamdulillah kondisi saya sehat,” katanya.

Meski demikian, dia mengaku kondisi psikisnya terganggu akibat perlakuan warga sekitar. Bukan saja kepada dirinya, juga pada anggota keluarga yang lain seperti kakak, ibu, dan keponakannya. Mereka seolah takut dan ‘melabeli’ keluarga Della sebagai pesakitan.

Dia pun berharap agar edukasi mengenai Covid-19, terutama tentang bagaimana cara penularan dan memperlakukan ODP, PDP, pasien positif, maupun keluarganya lebih diperhatikan. Jangan sampai ketika dinyatakan negatif atau sembuh total, stigma negatif itu terus melekat.

“Ya memang penyakit ini menular. Tapi, tolonglah bijak. Enggak ada yang mau kena Covid-19 kok. Kalau sudah sembuh ya sudah sembuh. Jangan terus dijauhi. Kayak saya yang statusnya ODP aja sudah down banget diginiin sama tetangga,” ujar Della.

Persoalan stigma negatif Covid-19 ini agaknya juga menjadi perhatian dokter sekaligus pengusaha UKM Tirta Mandira Hudhi. Dalam laman Instagram pribadinya, ia pun menyayangkan sikap masyarakat yang bahkan sampai menolak jenazah pasien positif Covid-19.

Dia menegaskan bahwa jenazah seseorang yang terinfeksi Covid-19 sudah diurus oleh tenaga medis sesuai prosedur dan undang-undang. Keluarganya pun hanya boleh melihat dari jarak jauh. Maka, tidak seharusnya mendapat penolakan.

“Kawan, pasien Covid, pasien suspect, ODP dan PDP, dan tenaga medis itu manusia lho. Bukan iblis. Mereka butuh semangat, bukan cacian. Sejatinya yang butuh obat bukan hanya virus, tapi juga society kita,” kata dr Tirta.

Kalau kamu yang ada di posisi mereka dengan status yang disebutkan dr Tirta di atas, apa mau diperlakukan seperti itu? Coba tanyakan diri sendiri. Ikuti saja imbauan pemerintah tanpa perlu menghakimi. Ingat, tak ada satupun yang mau terinfeksi virus ini.

 


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar