Yamaha

Cerita Warga Bekasi Berbagi Perahu Tanpa Dibantu Pemerintah

  Kamis, 27 Februari 2020   Ananda Muhammad Firdaus
Warga Bekasi Timur mengevakuasi diri dari komplek perumahannya yang terkena banjir dengan alat evakuasi seadanya. (Ist)

BEKASI TIMUR, AYOBANDUNG.COM -- Belum hilang rasa trauma Marlina, bukan nama sebenarnya, dengan kejadian banjir awal tahun 2020. Warga Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, ini tak tahu kemana keluhannya mesti diadu.

Selasa (25/2/2020) pagi, rumahnya terendam lagi. Trauma di awal tahun untungnya membuat keluarga Marlina lebih bersiap. Dia membeli dua perahu karet kecil, yang masing-masing ditunggangi maksimal oleh dua orang. Hari itu, kala air sungai sekitar rumahnya meluap lagi, keberadaan perahu dirasa manfaat.

AYO BACA : Saat Banjir Jilid 2, Apartemen di Tambun Digenangi Air Setinggi Dua Meter

"Aku bersyukur (kena banjir) 2 kali, yang lain 4 kali, 5 kali. Dan (dua kejadian banjir terakhir) terparah sepanjang masa, sepanjang ku di Bekasi. Biasanya itu banjir masuk rumah satu kali aja, sampai kepikiran mau beli apartemen aja," ujar Marlina kepada Ayobekasi.net, Kamis (27/2/2020).

Hari itu, dia mengaku kesal bercampur sedih. Kesal lantaran tak ada bantuan dari pemerintah, setidaknya pertolongan pertama evakuasi. Sedih, karena bantuan yang tak kunjung datang membuat warga hanya bisa memanfaatkan perahu miliknya.

AYO BACA : Ini yang Dilakukan Bupati Bekasi Hadapi Banjir Jilid 2

"Pas aku turun ke Irigasi banjir udah sepinggang. Ya udah aku coba terabas. Itu tetangga-tetangga, ibu-ibu teriak-teriak. Mbak-mbak itu perahu siapa? Aku bilang ini perahu saya, nanti saya balik lagi ya mau jemput bayi dulu," katanya.

Untuk memaksimalkan evakuasi warga lainnya, satu perahunya diberikan kepada pengurus RW. Dia pun mendapatkan laporan demi laporan penggunaan perahu tersebut untuk pertolongan.

"Pak RW ngirimin video foto evakuasi cuma dengan satu perahu itu. Aku nangis, aku bilang pak itu gak ada perahu dari kecamatan? Dia bilang gak ada cuma perahu dari mbak ini yang bolak balik. Aku nangis segitu banyak warga, nenek-nenek, bayi, anak kecil, ibu hamil," katanya.

Dia sadar, memang banjir di sekitar rumahnya tak separah wilayah lain. Namun, banjir sepinggang orang dewasa, katanya, tetap mengharuskan evakuasi dilakukan. Apalagi ada warga yang lemah, seperti bayi, ibu hamil, dan lansia.

"Harusnya pemkot malu, tapi urat malunya udah putus. Malah warga yang bagi-bagi lontong risole. Dapur umum juga (dibuat) warga. Dari pemkot ada? kagak. Untung masih punya hati ini orang-orang," ujarnya.

AYO BACA : Kisah Warga Bekasi yang Tak Lagi Percaya Pepen


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar