Yamaha Mio S

‘Bayaran’ Besar Guru SLB di Tengah Minimnya Gaji

  Rabu, 09 Oktober 2019   Firda Puri Agustine
Retno Muliawati, salah satu guru SLB C Bundaku, Bekasi Utara. (Firda Puri Agustine/Ayobekasi.net)

BEKASI UTARA, AYOBEKASI.NET -- Mata Retno Muliawati berkaca ketika menceritakan suka dukanya menjadi seorang guru anak berkebutuhan khusus (ABK) di Sekolah Luar Biasa (SLB) tipe C Bundaku, Bekasi Utara. Wanita yang disapa Ibu Eno ini mengenang saat anak didiknya itu berhasil melakukan sesuatu dengan benar.

Adalah Raka, anak didik istimewa baginya. Anak ini mengalami tunagrahita yang sulit sekali untuk diatur. Berkali-kali Ibu Eno merasa putus asa menghadapi tingkah bocah tersebut. Hingga suatu hari, Raka berubah seperti apa yang ia harapkan.

“Waktu itu saya tatap mata dia, saya ajak ngomong baik-baik. Setelah itu esoknya dia tidak lagi bertingkah macam-macam dan berubah jadi penurut. Di situ saya mau nangis. Perubahan sekecil apapun itu sangat membahagiakan,” katanya kepada ayobekasi.net, Rabu (9/10/2019).

Gaji yang kecil sebagai seorang guru SLB tak dihiraukan. Rasa sayang dan ketulusan terhadap anak didik jauh lebih besar dibanding nilai rupiah. Ibu Eno sadar, tidak semua orang mampu berada di posisinya. Dan, tidak semua bisa merasakan cinta tanpa syarat yang ia berikan pada mereka.

“Kalau ditanya suka dukanya, saya rasa lebih banyak sukanya. Enggak ketemu mereka sehari aja udah kangen. Mereka sudah seperti anak sendiri. Priceless, lebih dari gaji,” ujarnya.

Perasaan yang sama dirasakan Siti Masita, atau akrab disapa Ibu Ita. Lebih dari tiga tahun mengabdi, ia mendapat sesuatu yang nilainya tak bisa dibayar apapun. Cinta tulus dan rasa syukur yang selalu hadir setiap hari. Melihat anak-anak didiknya tumbuh dan berkembang menjadi kebahagiaan tersendiri.

Wanita 39 tahun itu bercerita, ada satu anak didiknya yang begitu posesif. Setiap hari selalu memuji ‘Ibu Ita cantik’. Setiap hari pula anak itu memeluknya, bermanja, dan mengumbar kalimat sayang. Anak itu bernama Yulan, penyandang tunagrahita berambut pirang.

“Selalu dia tanya ‘Ibu Ita sayang aku enggak?’. Kalimat-kalimat sederhana yang sering bikin terharu sampai saya susah berkata-kata,” katanya.

Bagi Ibu Ita, anak-anak tunagrahita tak beda dengan anak normal yang lain. Mereka juga punya perasaan, punya kelebihan, dan berhak untuk dikasihi. Mereka berbeda karena mereka istimewa dan punya hak pendidikan yang sama.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar