Yamaha Mio S

Batasi Asupan Kalori Saat Puasa Mampu Tingkatkan Fungsi Otak

  Selasa, 14 Mei 2019   Ananda M Firdaus
Ilustrasi buka puasa. (ayobandung.com)

BEKASI SELATAN, AYOBEKASI.NET --  Lebih dari satu miliar muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Namun dibalik aspek spiritual atau ajaran agama, sebuah penelitian menyatakan bahwa asupan makanan yang dijaga saat berpuasa akan berdampak baik pada otak.

Melansir dari Voice of America, seorang ahli saraf dari John Hopkins University, Baltimore, Amerika Serikat (AS) Mark Mattson mengaku telah mempelajari bagaimana pola diet yang diterapkan saat berpuasa dapat melindungi otak dari penyakit saraf. Dua di antaranya adalah penyakit Alzheimer dan Parkinson.

Tim peneliti menemukan bahwa mengendalikan dan membatasi kalori dapat meningkatkan ingatan dan emosi, juga keadaan pikiran seseorang.

Mattson mengatakan, studinya dibangun berdasarkan penelitian bertahun-tahun lalu yang mengonfirmasi kaitan antara berapa banyak kalori yang dimakan seseorang dan kemampuan mentalnya. Kalori adalah ukuran energi dalam makanan.

Sebuah laporan di Johns Hopkins Health Review menjelaskan tautannya. Dikatakan bahwa setiap kali kita makan, gula yang disebut glukosa disimpan di hati sebagai glikogen. Tubuh membutuhkan waktu sekitar 10-12 jam untuk menggunakan semua glikogen.

"Setelah glikogen habis, tubuh mulai membakar lemak, yang diubah menjadi bahan kimia yang digunakan oleh neuron sebagai energi. Bahan kimia ini penting untuk belajar, memori, dan kesehatan otak secara keseluruhan," tulis laporan Mattson.

Namun, jika kita makan tiga kali dalam sehari dengan tambahan camilan, maka tubuh tidak punya waktu untuk menggunakan semua glikogen di hati. Jadi, bahan kimia untuk pembelajaran dan ingatan tidak diproduksi.

Mattson mengatakan bahwa latihan fisik juga dapat menggunakan glikogen. Dia menambahkan bahwa tidak mengherankan bila olahraga terbukti berdampak positif yang sama pada otak sebagai puasa. 

Para peneliti menemukan bahwa mengurangi makanan setidaknya dua hari sepekan dapat meningkatkan koneksi saraf di hippocampus. Bagian otak ini mengendalikan emosi dan memainkan bagian dalam memori jangka panjang.

"Diet yang dikontrol kalori juga melindungi neuron dari penumpukan plak amyloid, sebagai protein yang biasa ditemukan di otak orang-orang dengan Alzheimer," terangnya. 

 

Cara Baik untuk Berpuasa 

Mattson punya dua saran untuk orang-orang hendak mencoba berpuasa. Pertama adalah diet yang disebut 5:2. Pada diet ini, kita dianjurkan hanya makan 500 kalori untuk dua hari, tapi tidak berturut-turut setiap minggu. 

Kemudian di sisa harinya, kita diperkenankan memakan jumlah kalori yang normal. Jumlah normal untuk wanita adalah sekitar 2.000 dan 2.500 untuk pria. 

Saran lainnya adalah pembatasan waktu makan. Dalam satu hari, kita memakan semua makanan rata-rata dengan periode per delapan jam. Hal ini memberi tubuh waktu untuk menggunakan semua glikogen di hati, mulai membakar lemak, dan menghasilkan bahan kimia.

Namun, Mattson memperingatkan bahwa bila seseorang belum pernah berpuasa sebelumnya, jangan segera memulai puasa. Para peneliti mengatakan tubuh perlu terbiasa dengan pembatasan kalori. 

Mereka membandingkannya dengan seseorang yang tidak aktif secara fisik dan kemudian memutuskan untuk menjalankan lomba lari jarak jauh tanpa pelatihan apa pun. 

"Ini sama saja dengan makan tiga kali sehari ditambah camilan, dan kemudian Anda tidak makan apa-apa selama dua hari. Anda tidak akan menyukainya," ujar Mattson. 

Dia menyarankan memulai dengan satu hari asupan makanan terbatas setiap minggu. Namun, eksperimen itu harus dilakukan seiring waktu dan secara bertahap. 
Mattson mengingatkan bahwa seseorang yang baru berpuasa mungkin akan mengalami sakit kepala, kepala yang ringan dan murung. Namun, eksperimennya menunjukkan masalah tersebut akan cepat berlalu dan digantikan dengan suasana hati seseorang akan meningkat.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar