Yamaha Mio S

Penyakit Baru Cacar Monyet Mulai Intai Indonesia

  Selasa, 14 Mei 2019   Fira Nursyabani
Ilustrasi monyet. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

BEKASI TIMUR, AYOBEKASI.NET -- Negara-negara Asia Tenggara tengah dihebohkan dengan penemuan satu penyakit baru, yaitu monkeypox atau yang dikenal dengan cacar monyet. Kasus penyakit monkeypox dikonfirmasi terjadi di Singapura setelah seorang warganya baru saja kembali dari perjalanan ke Afrika.

Monkeypox adalah penyakit yang diakibatkan oleh virus yang ditularkan melalui binatang (zoonosis). Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, atau lesi pada kulit atau mukosa dari binatang yang tertular virus.

Penularan pada manusia terjadi karena adanya kontak dengan monyet, tikus Gambia, dan tupai. Penularan juga bisa terjadi jika kita mengonsumsi daging binatang yang sudah terkontaminasi.

Inang utama dari virus ini adalah rodent (tikus). Penularan dari manusia ke manusia sangat jarang.

Wilayah terjangkit monkeypox secara global yaitu Afrika Tengah dan Barat seperti Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Ivory Coast, Liberia, Sierra Leone, Gabon, and Sudan Selatan. Sampai saat ini belum ditemukan kasus monkeypox di Indonesia.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah memberikan imbauan kepada masyarakat yang baru kembali dari perjalanan di wilayah yang terjangkit cacar monyet untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami beberapa gejalanya.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Anung Sugihantono, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (13/5/2019), mengimbau masyarakat untuk memeriksakan diri jika memiliki gejala seperti demam tinggi mendadak, serta pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit dalam waktu kurang dari tiga minggu setelah kepulangan.

Masyarakat yang habis bepergian juga diminta untuk menginformasikan kepada petugas kesehatan tentang riwayat perjalanannya.

Masyarakat juga diimbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan dengan sabun, menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata dan membatasi pajanan (exposure) langsung dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik.

Selain itu, masyarakat juga harus menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau material yang terkontaminasi, dan menghindari kontak dengan hewan liar atau mengkonsumsi daging yang diburu dari hewan liar (bush meat)


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar