Yamaha NMax

Tiga Kepala Daerah Diminta Tangani Masalah Sampah Bambu di Sungai Cikeas

  Minggu, 10 Maret 2019   Ananda M Firdaus
Kegiatan susur Sungai Cikeas KP2C menemukan tumpukan sampah bambu sepanjang bantaran sungai, Selasa (26/2/2019). (Dok. KP2C)

JATIASIH, AYOBEKASI.NET--Wali Kota Bekasi, Bupati Bogor dan Wali Kota Depok diharapkan bersinergi dan mengambil tindakan tegasĀ  dalam mengatasi penumpukan sampah bambu yang belakangan ini tanpa henti terjadi di aliran Sungai Cikeas sehingga menyumbat saluran sungai di Bendung Koja, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi.

Berdasarkan pengamatan Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas atau KP2C di lapangan, pada Jumat (8/3/2019) sampah bambu kembali menyumbat aliran Bendung Koja.

"Beberapa waktu lalu kami melakukan susur sungai bersama institusi terkait dan mendapati ada lebih 100 titik sumber sampah bambu, tersebar di Kabupaten Bogor, Kota Bekasi dan sebagian Kota Depok. Kami berharap bupati dan wali kota peduli dengan masalah ini," kata Ketua KP2C, Puarman Kahar, Minggu (10/3/2019).

AYO BACA : KP2C Sarankan Wilayah Rawan Banjir Kembangkan Early Warning System

Setidaknya ada tujuh perumahan bakal terancam banjir bila Bendung Koja tersumbat sampah ketika hujan lebat di hulu terjadi. Tujuh perumahan itu antara lain Vila Nusa Indah 3 dan Vila Mahkota Pesona di Kabupaten Bogor, kemudian Bumi Perkemahan Jatisari, Puri Nusaphala, Perum Mandosi Permai, TPU Jatisari di Kota Bekasi.

Menurut Puarman, hal itu pula pernah terjadi pada pertengahan Februari lalu, meskipun hanya empat perumahan yang kemudian tergenangi luapan air.

"Kami belum menghitung permukiman penduduk non perumahan. Tapi dipastikan pemukiman penduduk kampung juga ikut terancam," sambungnya.

AYO BACA : 14 Industri Diduga Cemari Kali Bekasi

Permintaan KP2C itu dilontarkan karena timbulan sampah bambu selalu terjadi tanpa henti. Pihaknya dibantu petugas DLH dua wilayah berulang kali membersihkan tumpukan sampah bambu dari tahun 2018. "Sudah berulang kali dibersihkan, tapi tetap saja ada kiriman lagi dan nyangkut di Bendung Koja," jelasnya.

Pada akhir Februari lalu, saat kegiatan susur sungai dilangsungkan, pihaknya menemukan bahwa pepohonan bambu mendominasi di sepanjang bantaran Sungai Cikeas. Namun pohon-pohon tersebut tampak dengan kondisi hampir rubuh, sudah rubuh, bahkan telah menghalangi laju aliran sungai.

Di satu sisi, pihaknya juga berhasil mengungkapkan bahwa tidam sedikit masyarakat memangkas pohon-pohon bambu dan dibiarkan begitu saja di pinggir sungai. Ketika tinggi muka air sungai naik, bambu-bambu bekas dipotong itu kemudian hanyut dan menyembabkan penyumbatan Bendung Koja.

Mengingat kegiatan pembersihan yang serupa berulang dilakukan, Puarman menilai usaha itu kurang efektif dan hanya bersifat sementara. Maka, lanjutnya, perlu ada pertemuan antar daerah untuk membahas langkah strategis sehingga bisa teratasi masalah ini.

Selain duduk bersama satu meja, KP2C juga menyorongkan saran perlunya dilakukan sosialisasi dan surat peringatan kepada pelaku usaha dan masyarakat sepanjang aliran sungai Cikeas agar merawat pohon bambu di wilayahnya dengan baik.

"Cobalah ada perhatian lebih serius sehingga masalahnya terselesaikan di sumbernya," tandasnya.

AYO BACA : Pencemaran Cileungsi dan Kali Bekasi Harus Ditangani Pemerintah Pusat


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar