Yamaha

Warga Betawi Pondok Melati Gelar Tradisi "Ngebesan, Ngarak Nganten"

  Sabtu, 04 Agustus 2018   Ananda M Firdaus
Tradisi Ngebesan atau Ngarak Nganten yang digelar di Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Sabtu (482018). (Ananda/ayobekasi)
PONDOK MELATI, AYOBEKASI.NET -- Masyarakat di Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, mengingatkan kembali pada tradisi moyang yang telah lama ada dalam sebuah ritual pernikahan, yakni Ngebesan atau Ngarak Nganten. 
 
Tradisi masyarakat Betawi ini sudah lahir seumur dengan peradaban Betawi itu sendiri. Lalu di era tahun 60 hingga 80-an begitu popular tradisi ini diiringi dengan lantunan solawat Dustur, Solawat Yalil serta tetabuhan Rebana Biang atau Hadroh.
 
"Kegiatan ini mesti dilaksanakan karena budaya kalau bukan kita yang merawat, kalau kita yang bukan melestarikan, niscaya budaya kita sedikit-sedikit akan hilang kemudian akan luntur, maka kegiatan seperti ini perlu dikembangkan, dengan tujuan sebagai sarana pengedukasi anak-anak kita, dimana anak-anak kita hari ini lebih mengenal budaya barat dibanding budayanya sendiri, sementara budayanya sendiri baik untuk diri," kata salah seorang Budayawan Bekasi, Usman Affandi, Sabtu (4/8/2018).
 
Sebelum prosesi ngebesan terlebih dahulu dilakukan beberapa tahapan bagi penganten lelaki maupun penganten perempuan. Penganten perempuan sebelum duduk dipelaminan dan menyatakan ikrar akad nikah terlebih dahulu berdiam dalam sebuah ruang yang dibuat sedemikian rupa dengan “dikurub” selimut tebal, tikar, bahkan hingga tabunan/bakaran dengan tujuan memacu keringat keluar dengan deras, sehingga saat duduk dipelaminan sang penganten tidak lagi kegerahan dan mengeluarkan banyak keringat. 
 
Ritual selanjutnya yaitu Asah Gigi supaya penganten wanita berpenampilan cantik gigi geriginya diasah hingga rata dan indah. Selanjutnya memasuki fase menjelang akad nikah ada ritual Tamatan yaitu kegiatan penganten wanita membaca ayat suci AlQuran sebagai sebuah perwujudan bahwa Orang Betawi Asli Kudu pinter mengaji. Hal itupun berlaku untuk penganten lelaki.
 
Iring-iringan rombongan besan dengan komposisi penganten lelaki berada dipaling depan, didampingi kedua orangtua. Di bagian belakang terdiri dari para pengiring sanak saudara, tetangga, kerabat sambil membawa kue-kue dalam nampan, sepikulan tenong berisi wajik dan dodol, sepikulan sayur sayuran dan lauk pauk mentah, sepikulan kayu bakar dengan hiasan ornamen cabe merah dan hijau dibuat dari sabut kelapa dilapisi kertas wajik. Tidak lupa membawa Kudangan sebagai mahar yang diminta oleh pihak penganten perempuan. Membawa seekor kambing sebagai Tukon. 
 
Iring-iringan rombongan besan sesampainya di latar rumah penganten perempuan akan melakukan prosesi Bakar Petasan sebagai pertanda penganten dan besan sudah sampai. 
 
Di halaman depan segera dipapag oleh rombongan tuan rumah. Sebelum masuk dan diterima diadakan ritual “Berebut Dandang”, sebagai simbol bahwa harkat martabat dan kesucian seorang perempuan harus dihargai setingi-tingginya. 
 
Pada ritual Berebut Dandang, Sepasang jawara melakukan adu tanding ketangkasan sebagai perwakilan dari pihak penganten perempuan dan penganten laki-laki yang didahului dengan berbalas pantun Khas Bekasi/Betawi. Ketika jawara dari pihak laki-laki berhasii merebut dandang dan kembali menyerahkan kepada pihak perempuan artinya rombongan besan boleh masuk rumah besan perempuan. Lalu pasangan mempelai masuk ruang pelaminan untuk melangsungkan akad nikah. Barulah setelahnya, rombongan besan dan hadirin dapat menikmati santapan yang sudah disiapkan.
 
Sebagai pelengkap, biasanya pada malam setelah hajat Ngebesan atau Ngarak Nganten selesai, acara Nanggap Hiburan juga digelar seperti Topeng, Tanjidor, Wayang Kulit, Pikep sekoder, kliningan, atau layar tancep.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar