Yamaha

Yang Harus Kita Pelajari dari Pria yang Dibakar Hidup-hidup : Indonesia Negara Hukum

  Rabu, 09 Agustus 2017   Husnul Khatimah
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

BEKASI, AYOBEKASI.NET – Belakangan, perhatian publik agaknya disita oleh peristiwa dibakarnya seorang pria hidup-hidup. Ia adalah M Alzahra atau Joya yang bernasib nahas. Dibakar hidup-hidup lantaran diduga maling amplifier milik Musala Al Hidayah, Babelan, Kabupaten Bekasi. Tak heran jika publik terkaget-kaget, karena terduga tewas dengan cara yang mengerikan.

Joya, sebagaimana dikabarkan sebelumnya, tewas bukan hanya karena terbakar. Tapi sebelum dibakar, pria berusia 30 tahun itu sempat dihujani oleh berbagai pukulan dan juga terkena benda tumpul yang menyebabkan dirinya menderita luka-luka di beberapa bagian tubuh.

Jika menilik keterangan beberapa saksi, Joya memang diduga sebagai pelaku pencurian ampli musala. Namun, kendati Joya bersalah, amuk massa yang ada kala itu bukanlah respon yang seharusnya terjadi.

Kapolres Metro Bekasi, Kombespol Asep Adi Saputra mengatakan, negara kita adalah negara hukum. Oleh karena itu setiap orang yang melanggar hukum atau diduga bersalah harus diadili melalui jalur hukum bukan main hakim sendiri.

"Tidak menegakan hukum dengan cara melanggar hukum. Itu namanya mencederai penegakan hukum.”

-- Asep Adi Saputra

Asep mengatakan, dirinya sangat menyayangkan peristiwa yang menimpa Joya itu karena bagaimanapun, katanya, Joya, meskipun berada dalam posisi yang salah, ia pun tetap berhakikat sebagai seorang manusia yang wajib mendapatkan perlindungan hak asasinya.

Undang-Undang (UU), kata Asep, mengamanatkan kepada seluruh warga negara Indonesia (WNI), boleh melakukan pengamanan jika menemukan tindak kejahatan. Namun, UU juga mengisyaratkan agar pelaku segera diserahkan kepada pihak yang berwajib. Bukannya dikeroyok, bahkan sampai dibakar hidup-hidup.

"Pesan kami masyarakat tidak boleh bertindak atau main hakim sendiri, setiap orang dengan kedudukan apapun, punya hak asasi yang sama. Kita tidak mentoleransi perbuatan seperti itu," kata Asep. Ia menambahkan, "Kita dari polisi dan masyarakat pasti mengecam tindakan seperti ini.”

Perbuatan main hakim sendiri terhadap MA itu bukan hanya disayangkan oleh Asep, namun juga oleh saksi kunci peristiwa, Rojali (40). Rojali, seorang marbot Musala Al-Hidayah mengatakan jika dirinya sempat melerai amukan kerumunan masa dan mengajak untuk tidak main hakim sendiri.

"Kami sempat melerai juga, masuk ke dalam kerumunan masa untuk kemudian (mengajak) jangan main hakim sendiri. Kalau pun dia memang bersalah, biar nanti hukum yang memprosesnya," kata Rojali.

Bahkan, kata Rojali, dirinya mengutuk keras para pelaku main hakim sendiri itu. "Mendengar dia dibakar seperti itu kami mengutuk keras tentang terjadinya pembakaran," tegasnya

Tapi apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur. Kejadian yang bikin leher tercekik telah terjadi dan kita tak bisa menarik waktu untuk mundur ke belakang. Namun tentunya, harapan agar peristiwa serupa tidak muncul lagi, tentu hadir di benar setiap dari kita. Sebab kita tahu, bahwa Indonesia adalah negara hukum.

(Husnul Khatimah)

AyoBaca : Kronologi Hilangnya Amplifier Musala Al Hidayah Berdasarkan Keterangan Saksi Kunci

AyoBaca : Suaminya Dituduh Maling dan Dibakar Hidup-hidup, Zubaida : Ia Bukan Maling


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar